Hari ini rame. Gw baru aja pulang dari Dago Tea House. Dsana ada pertunjukan teater yang dibuat oleh mahasiswa/i SBM dan FSRD. Temanya bagus, mengangkat tentang sebuah arti kemerdekaan sesungguhnya. Akan gw kasih gambaran mengenai teater yang berlangsung.
Awalnya, kita dijumpai seorang kakek yang ternyata beliau merupakan gambaran dari Negara Republik Indonesia. Awalnya dia mendeskripsikan dirinya yang baru saja merdeka. Pada saat itu, semua penduduk Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dengan arti yang sama, sehingga persatuan didapatkan. Seiring berjalannya waktu, dengan berpindahnya rezim kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto, yang merupakan seorang militer, Indonesia mengalami perubahan. Awalnya, Indonesia menjadi negara yang semakin kuat. Namun, seiring waktu kepemimpinan Soeharto yang terlalu lama, beliau menjadi bertindak seenaknya. HAM menjadi sempit pengartiannya, harga2 sembako naik, dan Indonesia dililit banyak utang. Kemerdekaan seakan kembali hilang dan masyrakat Indonesia tidak mempunyai kebebasan untuk berpendapat. Hingga akhirnya, mahasiswa turun ke jalanan, berorasi. Pada titik puncaknya, pada tahun 98 Soeharto turun.
Di era eformasi, yaitu era sekarang, kemerdekaan menjadi sebuah arti yang relatif, tergantung dari golongan masyarakatnya. Bagi masyarakat kurang mampu, merdeka adalah mereka bebas dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan murah. Bagi kaum borjuis, kemerdekaan adalah ketika mereka diberikan kebebasan untuk melakukan apa saja, selama itu memberi keuntungan buat mereka. Bagi kaum politikus, merdeka adalah kemenangan yang didapat ketika pendapat mereka dijadikan sebuah dasaran hukum negara ini.Dan pada akhirnya, arti dari kemerdekaan sendiri menjadi sebuah frasa bernyawa beda. Kemerdekaan yang dulu dapat dijadikan sebuah seruan tegas untuk memperkuat persatuan, nyatanya di jaman berubah menjadi sebuah pemicu konflik karena setiap golongan memperjuangkan kemerdekaannya masing2.
Di akhir cerita, kakek yang merupakan Negara Republik Indonesia, mati karena begitu banyak konflik yang terjadi di antara golongan di Indonesia. Negara kita kritis lalu hancur dikarenakan masyarakatnya sendiri.
Mau sampai kapan ego pribadi memperbudak diri kita?
-ar-